Jakarta – Bangsa ini dibangun dengan pengorbanan yang tidak ternilai, oleh darah dan air mata para pendahulu yang menginginkan persatuan lebih tinggi daripada perbedaan. Karena itu, terlalu berharga jika hari ini persaudaraan kita dipertaruhkan hanya oleh amarah sesaat. Setiap kali kita larut dalam emosi massa tanpa kendali, sesungguhnya kita sedang membuka pintu bagi pihak-pihak yang ingin mengadu domba dan menunggangi keadaan.
Bahaya Diadu Domba
Sejarah Nusantara penuh dengan kisah ketika rakyat diadu satu sama lain demi keuntungan segelintir elite atau kekuatan asing. Polanya tak pernah berubah: satu isu dilempar, emosi dipanaskan, lalu persaudaraan tercerai-berai. Saat itu terjadi, kita sering baru sadar bahwa yang diuntungkan bukan rakyat, melainkan kepentingan yang tersembunyi. Di era media sosial, pola ini semakin halus, sering kali dibungkus dengan narasi kebenaran semu.
Menolak Ditunggangi
Menolak ditunggangi berarti memilih untuk berdiri tegak di atas kesadaran sendiri. Artinya, kita berani berkata “tidak” ketika ada pihak yang ingin menjadikan kita pion dalam catur kekuasaan. Kita boleh marah pada ketidakadilan, kita boleh bersuara atas kebijakan yang tidak berpihak, tetapi jangan sampai suara itu dipakai untuk agenda lain yang justru merugikan bangsa. Menolak ditunggangi adalah sikap berdaulat secara jiwa, sikap yang memastikan bahwa kita tetap milik bangsa ini, bukan alat permainan siapa pun.
Jiwa Tenang sebagai Tameng
Ketenangan jiwa bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang justru melindungi kita dari permainan yang lebih besar. Jiwa tenang mampu membaca tanda, membedakan mana aspirasi murni dan mana yang direkayasa. Jiwa tenang tidak mudah terprovokasi, dan justru itu yang membuat bangsa ini tetap kokoh meski diguncang. Dalam konteks sosial-politik saat ini, jiwa tenang adalah tameng terakhir yang menjaga bangsa dari perpecahan.
Penutup
Indonesia tidak boleh menjadi panggung bagi pihak yang senang melihat rakyatnya saling mencurigai dan saling menjatuhkan. Di tengah badai isu dan hasutan, kita hanya perlu mengingat satu hal sederhana: bangsa ini terlalu berharga untuk dipertaruhkan pada amarah sesaat. Mari kita memilih untuk tetap tenang, menolak diadu, dan menolak ditunggangi. Karena hanya dengan jiwa-jiwa yang tenanglah bangsa ini bisa tetap berdiri kokoh di atas persatuan dan harapan bersama.




