Oleh: Syam Basrijal – Founder Restorasi Jiwa Indonesia
Banyak orang dewasa mengeluh, “Anak muda sekarang jauh dari agama, terlalu bebas, terlalu banyak bertanya.” Mungkin keluhan itu lahir dari rasa khawatir yang tulus. Tetapi jika kita mendekat sedikit lebih pelan, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang lain: generasi ini bukan sedang menjauh dari iman, mereka sedang mencari cara baru untuk beriman dan menemukan makna.
Generasi yang Haus Keadilan dan Keberagaman
Di berbagai kota di Indonesia, Generasi Z menunjukkan wajah yang cukup berbeda: lebih terbuka, lebih vokal, dan lebih sensitif pada isu keadilan. Mereka tidak segan bersuara tentang:
- Kesetaraan hak laki-laki dan perempuan
- Toleransi antaragama dan antarsuku
- Kekerasan berbasis gender
- Diskriminasi terhadap kelompok marjinal
- Kerusakan lingkungan dan krisis iklim
Bagi mereka, iman yang sejati bukan hanya soal ritual, tetapi juga soal bagaimana kita memperlakukan sesama. Mereka mudah tersentuh oleh kisah ketidakadilan, dan tidak ragu menggunakan media sosial untuk mengkampanyekan perubahan. Di titik ini, mereka sedang mengirim pesan penting: “Jangan suruh kami berdoa tanpa mengajarkan kami bagaimana bertanggung jawab pada sesama.”
Sikap pada Otoritas: Dari Takut Menjadi Kritis
Generasi Z tumbuh di tengah derasnya informasi. Mereka bisa membaca berita dari berbagai sudut, membandingkan, dan menyusun kesimpulan sendiri. Ini membuat hubungan mereka dengan figur otoritas – orang tua, guru, pemimpin – berubah.
Mereka tetap bisa hormat, tetapi bukan lagi hormat yang “buta”. Mereka:
- Bertanya ketika tidak paham
- Mengkritik ketika merasa ada ketidakadilan
- Menolak jika disuruh patuh tanpa penjelasan
Bagi sebagian orang tua atau pemimpin, ini terasa seperti pembangkangan. Padahal sering kali, mereka hanya ingin diperlakukan sebagai manusia yang punya nalar dan suara. Mereka ingin diajak berdialog, bukan sekadar diperintahkan.
Di dunia politik dan sosial, sikap ini muncul dalam bentuk keterlibatan mereka dalam aksi sosial maupun demonstrasi. Ketika mereka turun ke jalan, itu bukan sekadar gaya-gayaan, tetapi ekspresi kegelisahan: “Kami ingin negeri ini lebih adil.”
Spiritualitas di Era Konten Singkat
Satu hal yang menarik: Generasi Z tidak anti agama. Mereka hanya tidak tertarik pada cara penyampaian yang kaku, menghakimi, atau jauh dari realitas hidup. Mereka:
- Menemukan ustaz, pendeta, romo, dan pembimbing spiritual di Instagram, YouTube, TikTok.
- Belajar tentang Tuhan dari video satu menit yang menyentuh hati.
- Menangis oleh satu kalimat reflektif di kolom komentar.
Ini indah, tetapi juga berbahaya. Indah karena nilai-nilai spiritual menjadi lebih mudah diakses. Berbahaya karena semuanya bisa jatuh menjadi “spiritualitas instan”: cepat menyentuh emosi, tetapi tidak sempat masuk ke akar.
Mereka bisa tersentuh malam ini oleh video pendek tentang tobat, lalu besok kembali hanyut dalam arus konten lain. Bukan karena mereka tidak sungguh-sungguh, tetapi karena permainan algoritma tidak memberi ruang untuk berdiam lama. Hati tersentuh, lalu tergeser.
Di Antara Ragu, Lelah, dan Rindu pada Tuhan
Bagi banyak anak muda, iman bukan lagi garis lurus. Ada fase:
- Merasa dekat dengan Tuhan
- Lelah dengan ritual tanpa makna
- Meragukan ajaran yang tidak masuk akal di kepala mereka
- Bertanya pelan-pelan: “Benarkah Tuhan seperti yang aku diajarkan?”
Sebagian orang dewasa panik melihat ini. Padahal keraguan kadang adalah pintu menuju iman yang lebih dewasa. Generasi Z tidak lagi mau beriman hanya karena “turun-temurun”. Mereka ingin sampai di titik di mana mereka bisa berkata: “Aku memilih percaya, dengan kesadaranku sendiri.”
Mereka membutuhkan pendamping yang mau:
- Mendengarkan kisah ragu mereka tanpa segera men-cap “murtad” atau “kurang iman”
- Menjawab dengan rendah hati: “Aku pun dulu pernah bertanya hal yang sama.”
- Mengakui bahwa ada misteri yang tidak selalu harus dijawab, tetapi bisa dihidupi.
Kekosongan Eksistensial yang Tak Terlihat
Di tengah semua wacana, ada lapisan lain yang lebih sunyi: banyak anak muda hari ini merasa kosong di dalam. Bukan karena mereka tidak punya aktivitas, tetapi justru karena hidup mereka terlalu penuh hal-hal yang tidak sempat mereka cerna.
Timeline mereka berisi:
- Motivasi, tapi juga perbandingan
- Ucapan syukur, tapi juga berita bencana
- Konten humor, tetapi juga konten putus asa
Hati mereka lelah memproses semuanya. Di titik ini, banyak yang mulai mencari sesuatu yang lebih dalam dari sekadar “hiburan” dan “validasi”. Mereka mulai bertanya:
- “Untuk apa aku hidup?”
- “Siapa aku ketika semua ini berhenti?”
- “Apakah Tuhan sungguh peduli tentang apa yang aku alami?”
Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pintu menuju spiritualitas yang lebih sejati. Namun tanpa pendampingan, pintu ini juga bisa menjadi lubang gelap yang menakutkan.
Menemani Generasi Z Menemukan Arah
Apa yang bisa kita lakukan, sebagai orang tua, guru, atau pendamping?
- Stop menghakimi, mulai menemani
Mereka tidak butuh teriakan, “Kamu kurang iman!” Mereka butuh seseorang yang duduk di samping mereka dan berkata, “Yuk kita cari bareng-bareng.” - Ubah cara bicara tentang Tuhan
Dari Tuhan yang serba mengancam, menjadi Tuhan yang mengundang dan menyembuhkan. Dari ceramah satu arah, menjadi dialog yang memberi ruang tanya dan ragu. - Ajak mereka merasakan, bukan hanya menjalankan
Doa, ibadah, dan praktik spiritual perlu dikemas sebagai ruang perjumpaan, bukan daftar kewajiban. - Sediakan ruang hening di tengah kebisingan digital
Retret kecil, waktu tanpa gawai, journaling, atau sekadar berjalan pelan tanpa musik. Di sanalah jiwa punya kesempatan mendengar suara yang lebih halus: suara inti dirinya.
Generasi Z sedang menulis ulang peta nilai sosial dan spiritual di zaman ini. Mereka menuntut keadilan, tetapi juga mendambakan kedekatan dengan Yang Ilahi. Mereka membawa luka dan kebingungan, tetapi juga kejujuran yang jarang dimiliki generasi sebelumnya.
Jika kita mau berjalan bersama mereka, bukan menempatkan diri di atas mereka, mungkin kita semua – bukan hanya mereka – akan belajar cara baru mencintai Tuhan, sesama, dan diri sendiri.




