Jakarta – Sejarah panjang gerakan massa menunjukkan satu hal yang konsisten: betapa cepatnya emosi menyebar di tengah kerumunan. Cukup satu kata, satu simbol, atau satu kabar, ribuan orang bisa terbakar dalam sekejap. Pertanyaan mendasarnya: mengapa emosi massa begitu mudah menyala?
Sugesti dan Penularan Emosi
Gustave Le Bon, dalam karyanya The Crowd (1895), menjelaskan dua mekanisme utama: suggestion (sugesti) dan contagion (penularan). Sugesti membuat individu menerima pengaruh tanpa banyak pertimbangan. Dalam kerumunan, daya kritis menurun, dan orang cenderung mengikuti arus tanpa refleksi. Sementara contagion menjelaskan bagaimana emosi menular dari satu individu ke individu lain, persis seperti api yang merambat di padang kering.
Elias Canetti menambahkan dalam Crowds and Power (1960) bahwa massa selalu mencari keseragaman emosional. Itulah sebabnya satu teriakan mudah diikuti oleh banyak suara, dan satu tindakan emosional bisa berulang dengan cepat.
Refleksi Kontekstual: Era Media Sosial
Jika dulu penularan emosi hanya terjadi secara fisik di lapangan, kini media sosial mempercepat proses itu. Satu kabar bohong, satu potongan video tanpa konteks, dapat membangkitkan gelombang kemarahan dalam hitungan menit. Obrolan daring yang semula bersifat personal, bisa segera menjelma menjadi amarah jalanan.
Fenomena ini membuktikan bahwa jiwa massa kini tidak hanya terbentuk di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital. Jiwa massa digital sering kali lebih rapuh karena dipicu oleh informasi instan yang belum terverifikasi.
Edukasi Praktis: Literasi Emosional dan Digital
Untuk menghadapi fenomena ini, masyarakat perlu melatih dua hal:
- Literasi emosional – kemampuan mengenali, mengelola, dan mengendalikan emosi sebelum ia menyala tak terkendali.
- Literasi digital – kemampuan menyaring informasi, menunda reaksi, dan memverifikasi kebenaran kabar sebelum membagikannya.
Sugesti hanya bekerja bila pintu kesadaran kita terbuka tanpa filter. Dengan melatih kedua literasi ini, kita bisa menutup pintu bagi provokasi yang memicu kerumunan emosional.
Penutup
Api provokasi hanya bisa menyala bila kita memberinya bahan bakar. Sebaliknya, jiwa yang jernih adalah pemadam paling ampuh. Di tengah arus massa yang mudah terbakar, bangsa ini membutuhkan semakin banyak individu yang memilih menjadi air penyejuk—bukan bara yang menambah api.




