Jakarta – Gejolak sosial yang terjadi belakangan ini memperlihatkan betapa rapuhnya ketenangan publik ketika emosi lebih cepat menyebar dibanding nalar. Ribuan orang tumpah ruah ke jalan, suara-suara lantang bergema, namun di balik hiruk pikuk itu, ada yang sering luput: kesadaran untuk tetap waras.
Amarah yang Membutakan
Amarah adalah energi yang bisa membebaskan, namun juga bisa membinasakan. Ketika ia tak terkendali, ia lebih berbahaya daripada isu yang memicunya. Banyak orang terjebak dalam keyakinan bahwa teriakan keras adalah kekuatan, padahal justru itulah celah bagi provokator untuk menyulut bara. Amarah yang dimanfaatkan akan berubah menjadi bara yang membakar rumah kita sendiri.
Kewarasan Bukan Pasrah
Tetap waras bukan berarti menyerah. Justru di tengah badai, kewarasan adalah satu-satunya jangkar yang menjaga agar kapal tidak karam. Kewarasan berarti mampu menyaring kabar yang simpang siur, menimbang langkah dengan tenang, serta memilih jalan yang tidak menimbulkan luka baru. Dalam kondisi bangsa yang penuh ujian, kewarasan adalah kekuatan kolektif yang menyejukkan.
Bahaya Provokasi
Sejarah membuktikan, setiap gejolak sering ditunggangi oleh kepentingan tertentu. Ada tangan-tangan yang lebih suka melihat bangsa ini terbakar agar mereka bisa memetik keuntungan dari abu yang tersisa. Inilah mengapa masyarakat yang masih waras perlu sadar: jangan mudah percaya pada hasutan, jangan mudah larut dalam euforia massa. Yang tampak heroik di permukaan, bisa jadi hanyalah panggung yang dimainkan aktor-aktor tersembunyi.
Menjadi Mata Tenang di Pusaran Badai
Bangsa ini membutuhkan lebih banyak “mata tenang” di tengah pusaran badai. Orang-orang yang berani berkata: cukup, mari kita jernih. Orang-orang yang memilih mendengarkan dengan hati, bukan hanya menjeritkan emosi. Inilah bentuk keberanian baru – menjaga ketenangan di saat mayoritas memilih terbakar.
Penutup
Dalam setiap gejolak, selalu ada dua pilihan: menjadi bagian dari kerumunan yang terbakar, atau menjadi bagian dari jiwa-jiwa yang jernih. Jika kita ingin rumah besar bernama Indonesia tetap berdiri, mari kita menjaga diri agar tidak ikut merobohkannya dengan emosi. Karena kewarasan bukan sekadar sikap, ia adalah tindakan politik yang paling revolusioner hari ini: menolak diadu, menolak ditunggangi, dan memilih untuk tetap waras demi masa depan bersama.
Oleh: Syam Basrijal
Founder Restorasi Jiwa Indonesia




